Umum
Burung Jalak Bali, Indonesia termasuk negara yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati serta tingkat keunikan (endemisme) yang sangat tinggi sehingga Indonesia dimasukkan sebagai salah satu negara mega biodiversity karena Menurut WCMC (World Conservation Monitoring Committee) Indonesia mempunyai sekitar 17% dari seluruh jenis burung di dunia atau sekitar 1.539 jenis burung.
Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah salah satu burung berkicau yang termasuk langka di Indonesia. Burung yang berasal dari famili Sturnidae dan genus Leucospar ini juga dikenal dengan nama lain yaitu Curik Putih atau Bali mynah untuk sebutan yang diberikan oleh orang asing.
Burung Jalak Bali pertama kali ditemukan oleh pakar hewan dari Inggris, yaitu Walter Rothschild pada tahun 1910 lalu mempublikasikan burung ini ke publik pada tahun 1912. Awal mula pemberian nama ilmiah dari burung ini berasal dari nama akhir penemunya yaitu Rothschild.
Selain itu penemuan pertama burung Jalak Bali tersebut dilaporkan oleh seorang ahli burung berkebangsaan Inggris, Dr. Baron Stressmann pada tanggal 24 Maret 1911. Dr. Baron Stressmann memberi Dr. Baron Victor Von Plessenn rekomendasi untuk mengadakan penelitian lanjutan pada tahun 1925 lalu menemukan penyebaran burung Jalak Bali yang pada waktu itu mulai menyebar dari Bubunan hingga Gilimanuk dengan luas penyebaran yang diperkirakan mencapai 320 km2.
Burung Jalak Bali adalah satu-satunya spesies endemik Bali yang dilindungi oleh undang-undang dan pernah dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991.
Populasi terendah di alam liar pada burung ini adalah sebanyak 6 ekor pada data Desember 2006, sedangkan dalam penangkaran burung ini hanya berjumlah sekitar 100 ekor saja. Di alam bebas burung ini hanya diperkirakan hanya ada belasan ekor saja,
Karena jumlah populasi dari burung ini sangat sedikit dan terancam punah maka burung Jalak Bali terdaftar pada Apendix I, yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan.
Karena burung Jalak Bali memiliki penampilan yang sangat indah dan elok maka burung ini menjadi salah satu burung primadona yang paling diminati oleh para pemelihara dan kolektor burung dimana harga dari burung ini di black market bisa mencapai Rp 40 juta rupiah per ekor.
Perburuan liar dan terkikisnya habitat hutan mengakibatkan populasi burung ini semakin cepat terancam punah dan mengalami penyusutan. Atas dasar itulah hampir semua kebun binatang di seluruh dunia mempunyai program penangkaran burung Jalak Bali.
Salah satu pihak yang melakukan program penangkaran burung ini adalah Taman Nasional Bali Barat yang ingin mengembalikan populasi burung Jalak Bali melalui kegiatan nyata yang bersifat konstruktif.
Kegiatan nyata yang dilakukan adalah dengan cara membuat liar kembali dengan bertahap sub populasi buatan ke habitatnya. Pada akhirnya pengadaan individu burung sebagai cikal bakal lepas dan hidup bebas secara liar tentunya melalui penyelenggaraan kegiatan penangkaran yang dikelola dengan profesional dan dilakukan secara intensif.
Status 
- International Union for Conservation of Natur and Natural Resources (IUCN) telah memasukkan Jalak Bali ke dalam Red Data Book sejak tahun 1966. Red data Book adalah buku yang berisi tentang jenis-jenis dari flora dan fauna yang terancam punah.
- Jalak Bali terdaftar dalam Appendix I atau kelompok hewan yang dilarang untuk diperdagangkan karena terancam kepunahan pada konvensi perdagangan internasional bagi jasad liar Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora (CITES).
- Pada tanggal 26 Agustus 1970 pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/70 yang isinya menerangkan bahwa burung Jalak Bali dilindungi oleh undang-undang.
- Isi surat keputusan tersebut adalah, “Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Jalak Bali merupakan satwa yang dilarang diperdagangkan kecuali hasil penangkaran dari generasi ketiga (indukan bukan dari alam)”.
- Burung Jalak Bali Dikategorikan sebagai satwa yang hanya terdapat di pulau Bali atau jenis satwa endemik Bali. Burung ini bisa ditemukan di dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat.
Ciri-ciri 
Burung Jalak Bali memiliki ukuran tubuh sedang dengan panjang sekitar 25 cm. Burung Jalak Bali jantan dan betina hampir serupa dimana tidak adanya bulu pada bagian pipi. Penampilan burung jalak Bali sekilas mirip dengan burung Jalak Suren dan Burung Jalak Putih.
- Bulu
Burung Jalak Bali didominasi dengan bulu yang berwarna putih bersih,sedangkan bulu ekor dan ujung sayap burung ini mempunyai bulu yang berwarna hitam.
- Mata
Mata burung Jalak bali berwarna coklat tua, sedangkan daerah sekitar kelopak mata yang tidak berbulu memiliki warna biru tua.
- Jambul
Burung Jalak Bali jantan dan betina sama-sama memiliki bentuk jambul yang indah.
- Kaki
Burung Jalak Bali memiliki 4 jari jemari kaki yang berwarna abu-abu. 4 jemari kaki terdiri dari 1 jari di belakang dan 3 jari lainnya berada di depan.
- Paruh
Burung Jalak Bali memiliki paruh yang runcing dengan panjang sekitar 2 hingga 5 cm. Paruh dari burung ini memiliki ciri khas yang unik dimana pada bagian atas paruh terdapat peninggian yang memipih tegak. Warna paruh didominasi dengan warna abu-abu kehitaman dengan ujung paruh yang berwarna kuning kecoklat-coklatan.
- Ukuran
Burung Jalak Bali jantan dan betina memiliki kemiripan fisik yang hampir sama, namun pada umumnya untuk jenis jantan memiliki ukuran yang lebih besar sedikit dan mempunyai kuncir yang lebih panjang.
- Telur
Bentuk telur dari burung jalak Bali adalah oval berwarna hijau kebiruan yang memiliki diameter rata-rata sekitar 3 cm untuk diameter yang terpanjang dan 2 cm untuk diameter yang terkecil.
Masa reproduksi
Masa perkembangbiakan burung Jalak Bali biasanya bersamaan dengan datangnya musim hujan dimana pada musim hujan pakan alam untuk burung ini akan tersedia dalam jumlah yang banyak. Selain itu kelembaban dan suhu pada musim hujan lebih ideal dalam kemungkinan keberhasilan menetasnya telur.
Para pemerhati Jalak Bali mempunyai kesimpulan yang berdasarkan pengalaman dan kenyataan di lapangan bahwa :
1. Burung Jalak Bali pada umumnya melakukan perkawinan antara bulan Oktober hingga bulan Januari (Alikodra,1979).
2. Burung Jalak Bali berkembang biak pada bulan Januari hingga bulan Juli dimana musim hujan sangat mempengaruhi proses perkembang biakan. (Suryawan, 1995)
3. Periode masa berkembang biak burung Jalak Bali dimulai sejak musim hujan, yaitu sekitar bulan Januari hingga bulan Maret (Natawira, 1978).
Sarang
Burung Jalak Bali jantan dan betina akan membuat sarang bersama-sama dengan cara menyusun lubang dasar yang sebelumnya telah ditempati oleh burung Bultok atau burung pelatuk namun bisa saja tinggal di lubang pohon alami.
Bahan yang akan digunakan untuk menyusun sarang antara lain rumput kering, dedaunan, ranting, dan bulu burung. Burung Jalak Bali biasanya memilih untuk berkembang biak di pohon Walikukun (Schoultenia ovata), Klumprit (Terminalia microcarpa), Laban (Vitex pubescens), Talok (Grewia koordersiana), Pilang (Acacia leucoplopea) dan Laban (Vitex pubescens).
Habitat
Burung Jalak Bali hanya bisa ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Burung ini adalah satu-satunya spesies endemik Bali yang pernah dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991. Keberadaan hewan endemik Bali ini termasuk dalam kategori Critically Endangered (kritis) dan dilindungi oleh undang-undang yang sangat ketat.
Untuk saat ini burung ini hanya terbatas pada kawasan Taman Nasional Bali Barat tepatnya di Tanjung Gelap Pahlengkong dan Semenanjung Prapat Agung dan yang habitatnya bertipe hutan pantai, hutan mangrove, hutan musim dan savana
Sifat
Jalak bali mempunyai sifat-sifat dasar yang sangat peka terhadap adanya suatu gangguan. Dengan kata lain burung Jalak bali mudah terkena stres bila merasa keadaan lingkungannya tidak baik. Pada akhirnya hal ini bisa mengganggu kemampuan reproduksinya.
Burung Jalak Bali lebih memilih lubang-lubang pada batang pohon sebagai sarangnya, sedangkan burung Jalak Bali tidak memiliki kemampuan membuat lubang pada pohon karena selama ini burung ini hanya menempati lubang pohon yang sebelumnya ditempati oleh burung lain.
Makanan
Makanan alami dari burung Jalak bali adalah hewan-hewan kecil ataupun serangga kecil seperti telur semut, semut, jangkrik, belalang, rayap, kupu-kupu, ulat, rayap, hingga serangga tanah.
Untuk makanan alami yang bersifat nabati adalah buah trenggulun, buni (Antidesma bunius), intaran (Azadirachta indica), bekul (Zyzyphus mauritiana), kerasi (lamntana camara), daging buah kepuh (Sterculuia foetida), talok (Grewia koordersiana), kelayu, kalak, dan ciplukan.
Sedangkan makanan burung yang disajikan di tempat penangkaran terdiri dari nabati seperti pepaya dan pisang, sedangkan yang hewani terdiri dari belalang, ulat hongkong, telur semut (kroto basah) jangkrik, dan kroto basah (telur semut).
Untuk jenis pakan pendukung lainnya bisa disajikan dalam bentuk pakan olahan seperti kroto fancy food, kroto kristal, kroto voer 521. Penyajian pakan pisang bisa diberikan 2 buah pisang per ekor dalam 1 hari, pepaya bisa diberikan 2 iris per ekor dalam 1 hari, pemberian pakan ulat atau kroto masing-masing 8 gram per ekor dalam 1 hari, dan pemberian pakan serangga 2-4 ekor dalam 1 hari untuk 1 ekor burung.
Penyakit
Menurut McCallum Dobson (2006) berdasarkan Crooks dan Sanjayan (2006), fragmentasi habitat inang bisa meningkatkan jarak rata-rata parasit untuk berpindah antara kelahiran dan kesuksesan kolonisasi satwa.
Kondisi dimana populasi inang berubah menjadi kawasan kecil dan terfragmentasi akan menyebabkan peningkatan keberhasilan penyebaran penyakit dan akan menyebabkan peningkatan prevalensi terhadap beberapa parasit dan patogen lain.
Menurut Thompson (2001), penyakit utama yang terjadi pada populasi di penangkaran adalah hemochromatosis, atoxoplasmosis, dan chlamydia.
Hemochromatosis merupakan suatu kondisi dimana burung mengalami gangguan pada penyimpanan zat besi sehingga bisa menimbulkan akumulasi zat besi yang berlebihan, pada akhirnya hal ini bisa mengakibatkan peradangan pada berbagai organ tubuh burung.
Hingga saat ini belum diketahui dengan apsti apa penyebab dari hemochromatosis pada burung. Namun, hemochromatosis masih menjadi penyakit yang sering menyerang pada beberapa jenis burung jalak.
Beberapa peneliti mempunyai pendapat bahwa hemochromatosis termasuk penyakit yang berhubungan dengan diet karena hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penurunan konsumsi zat besi bisa menurunkan resiko penyakit ini. Selain itu pemberian pakan berupa buah jeruk bisa membantu memberikan asupan asam askorbat yang bisa meningkatkan penyerapan zat besi.
Atoxoplasmosis adalah penyakit pada burung yang disebabkan oleh parasit koksidia yang menginfeksi epitel intestinal dan sistem limfoid pada burung-burung yang berkicau.
Infeksi pada burung berasal dari tertelannya ookista yang bersporulasi dan mempunyai efek infeksi yang berat dan kematian pada burung-burung muda yang biasanya terjadi pada burung dengan usia sekitar 3 hingga 8 minggu.
Infeksi atoxoplasma pada burung dewasa cenderung bersifat asimptomatik dan sering tidak terjadi pengeluaran ookista kecuali burung mengalami stres, misalnya ketika burung dipindahkan dari kebun binatang satu ke kebun binatang lain. Hingga saat ini atoxoplasma dipercaya bisa diturunkan dan disebarkan ke anakan sehingga anakan burung akan terinfeksi.
Menurut Thompson (2001), sulfachlorpyrazine dan toltrazuril adalah dua macam obat yang sekarang digunakan secara rutin untuk mengatasi tahapan hidup atoxoplasmosis yang berbeda pada jalak bali.
